KEBALANPELANG –12 Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya (MMD UB) Kelompok 55 bergotong royong membangun taman tanaman obat keluarga (toga) edukatif di taman Balai Desa Kebalanpelang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Senin (13/7/2026). Kegiatan yang melibatkan seluruh anggota kelompok ini merupakan bagian dari tema besar pengabdian "SEKAR DESA (Sinergi Ekonomi, Kesehatan, Agrikultur, dan Ruang Belajar)" di bawah bimbingan Edriana Pangestuti, S.E., M.Si., DBA., dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.
Program ini digagas untuk menjawab persoalan pemanfaatan lahan hijau dan tanaman obat keluarga di Desa Kebalanpelang yang selama ini belum optimal. Padahal, toga merupakan tanaman obat yang mudah dibudidayakan di pekarangan rumah dan berperan penting dalam mendukung kesehatan keluarga sekaligus pemanfaatan lahan secara produktif. Selain itu, upaya penghijauan lingkungan desa juga dinilai masih perlu ditingkatkan guna menciptakan suasana desa yang lebih asri, sehat, dan berkelanjutan.
Ketua kelompok, Taufiq Ali Hakim, menjelaskan bahwa taman toga ini dirancang bukan sekadar mempercantik area taman balai desa, melainkan sebagai ruang belajar bagi warga tentang manfaat tanaman obat dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami harap taman ini punya fungsi ganda, jadi ruang hijau sekaligus perpustakaan hidup buat warga. Banyak tanaman obat yang sebenarnya sudah ada di sekitar rumah, namun masyarakat belum mengetahui manfaatnya secara spesifik. Melalui taman edukatif ini, harapannya pengetahuan itu bisa lebih mudah diakses oleh siapa saja yang datang ke balai desa," ujar Taufiq.
Rangkaian kegiatan diawali dengan observasi lokasi untuk menentukan titik penanaman pohon dan tata letak taman, dilanjutkan koordinasi perizinan dengan perangkat desa mengenai lokasi serta jenis tanaman yang akan ditanam. Setelah itu, tim melakukan pengadaan aneka tanaman toga, pupuk, hingga perlengkapan sistem sprinkler yang akan dipasang di taman.
Pada hari pelaksanaan, seluruh anggota kelompok turun tangan bersama-sama, mulai dari mencangkul dan mengolah lahan, menanam berbagai jenis tanaman obat keluarga, hingga memasang sistem sprinkler otomatis yang dirancang untuk memudahkan penyiraman tanaman secara berkala setiap hari. Kehadiran sprinkler ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan perawatan taman meski masa penugasan MMD telah berakhir.
Tidak berhenti di situ, tim juga memasang pagar keliling untuk melindungi taman dari gangguan hewan maupun aktivitas yang dapat merusak tanaman, serta membuat tempat sampah kreatif dari jaring dan botol air mineral bekas sebagai bentuk kampanye pengelolaan sampah berbasis daur ulang. Sebuah plang kayu bertuliskan himbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan turut dipasang di sekeliling taman, mengingatkan warga sekaligus pengunjung balai desa untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Sentuhan teknologi juga dihadirkan melalui pemasangan barcode QR code untuk tanaman toga yang ditanam. Cukup dengan memindai kode tersebut menggunakan telepon pintar, pengunjung dapat langsung mengetahui nama, jenis, serta manfaat kesehatan dari tanaman yang bersangkutan tanpa harus bertanya kepada orang lain atau mencari informasi secara terpisah.
"Kami sengaja tambahkan QR code supaya taman ini nggak cuma jadi pajangan hijau, tapi benar-benar interaktif. Warga atau siapa pun yang berkunjung ke taman balai desa bisa langsung belajar mandiri hanya dengan memindai kode di dekat tanaman," tambah Taufiq.
Program penanaman pohon dan taman toga edukatif ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Desa, khususnya SDGs 3 (Desa Sehat dan Sejahtera) dan SDGs 15 (Desa Peduli Lingkungan Darat). Setelah tahap penanaman selesai, tim MMD UB Kelompok 55 akan melakukan monitoring berkala terhadap pertumbuhan tanaman, fungsi sistem sprinkler, serta tingkat partisipasi dan pemanfaatan taman oleh masyarakat sebagai bahan evaluasi dan penyusunan laporan akhir kegiatan.
Melalui taman toga edukatif berteknologi sprinkler dan QR code ini, mahasiswa MMD UB Kelompok 55 berharap Balai Desa Kebalanpelang tidak hanya menjadi lebih hijau dan asri, tetapi juga tumbuh menjadi ruang belajar bersama yang menanamkan kebiasaan hidup sehat dan peduli lingkungan bagi masyarakat desa secara berkelanjutan.